SEKOLAH PENDIDIKAN KARAKTER

BERITA

APEL KEBERUNTUNGAN

       Alkisah di sebuah desa terpencil hiduplah seorang nenek dan cucunya. Humaira cucu sang nenek sangatlah periang. Gadis dengan wajah kemerahan gembuk bak buah apel, rambutnya pun kemerahan mirip bule. Teman-teman sekampung memberi julukan “Putri Apel”. Hal ini juga karena Humaira suka dengan buah apel. Halaman depan dan belakang rumah ditumbuhi pohon apel. Warna apel pun berwarna-warni. Ada apel merah, apel hijau, dan apel perpaduan merah dan hijau . Hasil panen apel tersebut untuk kebutuhan hidup sehari-hari Humaira dengan sang nenek. Mereka akan menjualnya ke kota jika panen telah tiba.

          “Nek, kapan buah apel akan dipanen?” Humaira lihat sudah ranum dan siap untuk kita panen.

          “Humaira cucuku, nenek juga melihatnya dan mungkin 4-5 hari lagi kita akan petik buah apel itu “, jawab nenek Ijah.

          “Baiklah Nek”. Humaira akan siapkan keranjang dan perlengkapan lainnya.

*****

          Keesokan harinya Humaira mulai bersiap dengan perlengkapan yang biasa mereka gunakan saat panen. Humaira pun duduk diantara pohon apel sambil mulai bekerja merakit keranjang dan menyiapkan galah untuk panen buah apel.

          Humaira teringat kembali akan panen apel setahun yang lalu, hasil panen buah apel kurang begitu bagus. Itu karena musim hujan dan nenek tidak memanennya tepat waktu sehingga banyak buah apel yang bagus diluar tapi didalam buah apel banyak ulatnya. Waktu itu nenek Ijah juga sedang tidak enak badan jadi buah apel dibiarkan begitu saja.

          Humaira termenung sambil berdoa dalam hati semoga hasil panen apel ini membawa keberuntungan bagi kami. Saat Humaira memikirkan itu, tiba-tiba ada suara dari pohon apel merah.

          “Humaira Si Putri Apelku.. Jangan kau merasa khawatir akan panen esok hari, karena apel merah akan memberikan rasa pada pembeli yang nikmat tiada tara. Jika orang tersebut membeli dan memakan apel merah maka pembeli akan merasa beruntung saat itu juga”. Humaira pun terkejut dan mencari datangnya suara tersebut. Ooohh ternyata suara datang dari buah apel merah gumam Humaira. “Benarkah apa yang kau katakan padaku apel merah?”  terima kasih dan pasti nenek akan senang jika nanti aku ceritakan.

Humaira pun kembali bekerja. Dan suara itu perlahan menghilang daaannn…kedebuuuukkk… Humaira pun kaget kembali. Ternyata si apel merah jatuh dengan sendirinya. Humaira memungutnya dan menggigit apel merah itu. Ternyata benar apa yang dikatakan si apel merah tadi. Buah apel merah sangat empuk, renyah, dan saat dikunyah ternyata ada logam mulia berbentuk bundar. Humairah pun berhenti mengunyah… oohhh Tuhan ini koin emas. Humairah pun merasa senang dan merasa beruntung kegirangan dengan apa yang dilihatnya yaitu sebuah “Koin Emas”.

          “hohohoho… Humaira Si Putri Apel”. Terdengar suara kembali... “Koin emas itu tidak semua orang akan mendapatkannya. Karena yang harus mendapatkan hanyalah orang-orang yang mempunyai hati mulia. Artinya hati yang lembut, penuh kasih, tidak iri dan juga tidak dengki pada sesama, ucap apel merah”. Baiklah angguk Humaira.                                                            

Sesaat setelah tak terdengar suara, Humaira pun kembali menata keranjang dan menaruh di tempat biasanya. “Gedebuuukkk… sambil memegang kepalanya Humaira meringis kesakitan karena apel hijau jatuh tepat di kepalanya”. Lalu dipungutnya apel tersebut dan digosok-gosokkan pada bajunya. Lalu hal yang sama dilakukan oleh Humaira yaitu memakan apel hijau tersebut. Buah apel hijau terasa renyah, empuk, dan manis. Didalamnya juga terdapat koin emas yang berkilauan. Terima kasih Tuhan karena Engkau memberi kami nikmat yang tiada tara. Humaira melewati pohon apel perpaduan merah dan hijau. Humaira memetik apel tersebut karena waktu melewati pohon apel tersebut, sebuah ranting menghalangi pandangannya. Hal yang sama pun terjadi. Apel yang biasanya renyah dan rasanya beda dengan buah apel yang lain karena memang sedikit masam. Untuk kali ini rasanya sangat beda yaitu manis dan mengandung air yang sangat banyak. Koin emas dari apel tersebut langsung dimasukkan pada kantung bajunya sambil tak henti berucap syukur.

*****

          Terdengar sayup-sayup suara nenek Ijah memanggil. “Humairaaa… Humairaaa…”. Humaira pun langsung berlari menuju arah nenek.

“Nenek masak apa hari ini? Tanya Humaira”. “Nenek memasak sayur terong, kacang panjang, dan ikan asin kesukaanmu”. Humaira pun bergegas menuju dapur dan makan dengan lahap sekali. Nenek pun menemani Humaira makan siang.

Di sela-sela makan, Humaira menceritakan kejadian tadi waktu di bawah pohon apel. “Nek, tadi Humaira menemukan kejadian pada pohon apel kita. Nenek tak perlu khawatir akan hasil panen esok hari”. Karena buah apel merah, hijau, dan perpaduan apel merah dan hijau akan memberikan keberuntungan bagi kita dan pembelinya. Wajah nenek seperti kebingungan dan mengernyitkan dahinya. “Apa yang kamu katakan cucuku? keberuntungan apa yang kamu maksud?”.

“Begini Nek.. didalam buah apel tersebut terdapat “Koin Emas”. Barang siapa yang membeli apel tersebut dan mempunyai hati yang mulia dengan artian memiliki hati yang lembut, penuh kasih, tidak iri dan juga tidak dengki pada sesama maka akan mendapatkan koin emas didalamnya, ungkap Humaira pada neneknya”. Dan ini Nek koin emas yang sudah Humaira dapat. Humaira lalu mengeluarkan dari kantong bajunya.

Seketika nenek bergelimang air mata. Sambil terbata-bata nenek berkata. “Humaira, Tuhan telah mengangkat derajat kita untuk itu sebagian buah apel hasil panen akan nenek bagikan pada penduduk terutama yang kurang mampu”. Humaira pun mengangguk sambil memeluk erat nenek ijah.

*****

Hari yang ditunggu pun telah tiba yaitu panen buah apel. Warga pun berdatangan untuk membantu seperti ajakan Humaira  dan Nenek tempo hari. “Nek, buah apelnya banyak sekali dan segar-segar, celetuk salah seorang warga”.

“Baiklah para warga sebelum kita panen bersama buah apel ini, nenek minta tolong kepada bapak Prabu selaku sesepuh desa untuk memanjatkan doa agar panen hari ini tanpa halangan apapun, kata Nenek Ijah”.

“Dengan senang hati nek, ujar pak Prabu sambil tersenyum”.

          Selang berapa lama panen apel pun dimulai dan diserbu oleh warga dengan tetap tertib dan berhati-hati agar buah apel tidak terbelah dan rusak. Seketika beberapa keranjang sudah terisi penuh. Humaira bersama teman-temannya sangat cekatan dan riang sekali. Lena, Weni, Tirta, Wiryo, berlarian kearah Humaira dengan membawa galah siap untuk memetik buah apel hijau.

          Tak terasa hari sudah sore. Keranjang-keranjang pun sudah penuh oleh buah apel. Para warga pun duduk dengan wajah yang berseri puas dengan apa yang sudah mereka panen bersama.

                     

          Di kejauhan masih terlihat ibu-ibu mulai membagi buah apel dengan memasukkan ke dalam plastik atas permintaan Nenek Ijah. Humaira juga terlihat sibuk memasukkan buah apel yang akan dibagikan pada warga.

          “Alhamdulillah panen apel berjalan lancar dan warga sudah mendapatkan setengah kilo buah apel kira-kira berisi dua hingga tiga apel “, ujar Humaira pada Nenek Ijah.

“Dan untuk buah apel di keranjang itu yang akan kita jual ke kota besok ya Nek?”  Parmin dan Paidi akan membantu kita Nek.

          “iya cucuku yang cantik bak buah apel ranum, gurau nenek”. Seketika pipi Humaira kemerahan bagai apel keberuntungan yang mereka tanam.

*****

          Keesokan harinya, warga mendatangi gubuk Nenek Ijah. Ramai sekali mereka. Bahkan lebih ramai dari kokokan ayam jago pak Prabu.

          “Nek… Nek… Nenek…  keluarlah sekarang, ucap salah seorang warga”.

          “Ada keperluan apa kalian mendatangi rumah saya sepagi ini?” Humaira juga tidak ketinggalan mengikuti neneknya.

          “Nek, kami hanya ingin mengucapkan terima kasih karena setelah kami memakan apel pemberian nenek, tiba-tiba didalam apel tersebut ada koin emas nya, papar warga”.

          “Ouh itu maksud kalian ke rumah saya sepagi ini, kata Nenek”. Berterima kasihlah pada Tuhan karena kalian semua membantu dengan ikhlas dan hati kalian sangat mulia. Dan semoga koin emas itu bisa digunakan oleh kalian pada jalan yang benar dan untuk kebutuhan sehari-hari, lanjut Nenek Ijah.

          “Baik Nek, kami akan selalu ingat nasehat nenek, celetuk salah satu warga”. Kami pamit dulu nek dan maaf sudah mengganggu nenek dan Humaira.

          Akhirnya setelah warga pergi, nenek dan Humaira pergi ke kota untuk menjual hasil panen di sana.

          Sore menjelang..  Nenek, Humaira, Parmin, dan Paidi sudah berada di desa kembali. Dengan keranjang kosong, karena buah apel sudah terjual tanpa sisa.

          “Terima kasih buat semua karena hasil buah apel ini sangat memuaskan dan juga bisa membahagiakan warga dan pembeli nantinya setelah memakan apel tersebut, seru nenek”. Semoga panen berikutnya juga akan seperti ini dan bisa berbagi kembali kepada warga sekitar. “iya nenek … mereka langsung menjawab dengan kompak… Aamiin YRA..”

          Akhirnya… Nenek dan Humaira hidup dengan berkecukupan berkat Apel Keberuntungan yang sudah Tuhan kirim buat kehidupan mereka dan warga setempat.

SELESAI

Penulis : Nining Mardiana

Guru : Bahasa Indonesia

MEDIA SOSIAL SEKOLAH
YOUTUBE